cara mendidik anak secara islam

Cara Mendidik Anak Secara Islam

Sudah semestinya pendidikan anak diterapkan untuk melahirkan generasi yang berkualitas. Dalam artian, generasi yang tidak hanya bertumpu pada kecerdasan intelektual, tapi juga keimanan, moral, dan aspek mental. Karena itu, orang tua perlu mengetahui cara mendidik anak secara Islam.

Ada beberapa hal yang perlu dilihat, terkait dengan pendidikan anak. Islam tidak hanya melihat tujuan pendidikan semata, tapi juga memperhatikan segmen metode, materi, dan hal-hal lain yang kelak dapat berguna bagi anak.

Atas dasar inilah, Anda perlu mengetahui 3 elemen penting pendidikan anak. Yaitu peran pendidik, materi pendidikan yang diterapkan, dan
metode penerapan pendidikan.

Peran Pendidik

Anak terlahir lemah, ia bagaikan kaset kosong, bersih, suci, dan ditakdirkan tidak tahu apa-apa. Pendidikanlah yang mengisi perkembangan jiwanya, mengubah karakter dan mentalnya, serta memperkuat keimanan dalam hatinya. Karena itu, pendidik harus peka, melihat semua aspek ini, dan melakukan apa yang semestinya kepada anak.

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah’” (An Nisa: 2)

Islam tidak menafikan, peran keluarga sangat berpengaruh terhadap anak. Anak cenderung meniru pola perilaku orang-orang di sekitarnya. Orang tua di sini haruslah tanggap, memberikan contoh, perhatian, dan perlindungan. Sehingga anak merasa aman dan nyaman tinggal di linggukan keluarga.

Kerabat dan tetangga sekitar juga dapat memeberi pengaruh kepada anak. Karena itu, tanggung jawab pendidikan ini tidak ditumpahkan kepada orang tua ansich. Jika terjadi misconduct (penyimpangan perilaku pada anak), sudah semestinya kita semua meluruskan tingkah lakunya.

Pendidik juga perlu memeperhatikan kebutuhan-kebutuhan dasar pada anak. Mencukupi dan menjaga keperluan pangan, sandang, papan, juga berpengaruh dalam proses pendidikan.

Islam telah menggariskan bagaimana peran-peran individu dalam keluarga. Bagaimana kewajiban ayah, ibu, kerabat, bahkan bagaimana kewajiban dalam bertetangga.

Salah satu kewajiban inti yang telah ditentukan dalam islam adalah pemenuhan nafkah oleh ayah (suami) terhadap seluruh anggota keluarga.

Dalam aspek pangan, perlu diperhatikan halal haramnya, juga kandungan gizi dan manfaatnya bagi anak.

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu” (Almaidah: 88) 

Materi Pendidikan anak

Secara mendasar, tujuan kehidupan ini adalah menggapai kebahagian abadi, bukan semata kebahagiaan semu di dunia. Idealnya, pendidikan yang diterapkan adalah pendidikan yang mencita-citakan kebahagiaan dunia dan akhirat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّـهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. Al-Tahrim: 6)

Atas dasar ini, Anda harus mengenal fondasi utama pendidikan anak secara islam. Yaitu Keimanan (inti), sikap (perilaku, moral, mental), intelektual (pengetahuan, logika, skill), dan sosial.

1. Pendidikan Iman

Pendidikan yang satu ini tidak bisa ditawar-tawar. Karena ini berkaitan tentang keselamatan sang anak di akhirat kelak.

Semua rasul menanamkan ajaran yang dibawanya tertumpu pada aspek iman. Nabi Adam, Idris, hingga nabi Muhammad SAW menyampaikan ajaran keimanan yang sama, yaitu iman kepada Allah Yang Maha Esa.

Dalam islam, keimanan yang harus ditanamkan pada anak adalah:

  • Iman kepada Allah
  • Iman kepada Malaikat Allah
  • Iman kepada Kitab Allah
  • Iman kepada Rasul Allah
  • Iman kepada Hari Kiamat
  • Iman kepada Qadha dan Qadar Allah

2. Pendidikan Sikap

Pendidikan sikap meliputi sikap perbuatan, moral, dan mental.

Anak hendaknya dididik berbuat positif, dengan mengerjakan hal-hal yang wajib. Membiasakan shalat padanya, mengajarkan tatacara wudhu, melatih berpuasa, dan lain-lain. Selanjutnya, ajarkan pula tentang perkara sunnah (opsional), seperti membuang sampah pada tempatnya, mengucapkan salam, dan lain sebagainya.

Sikap moral tidak lepas dari nilai baik dan buruk. Anak dalam ini perlu mengetahui tindakan baik yang perlu dia lakukan, dan memahami perbuatan buruk yang harus dihindari. Kenalkan juga tentang sifat-sifat terpuji dan tercela.

Sikap mental anak juga perlu dibina, sehinga ia menjadi seorang yang berani, pantang menyerah, independent, percaya diri, yang kelak berguna saat dewasa.

3. Pendidikan intelektual

Pendidikan ini meliputi wawasan keilmuan, skill, logika. Ajarkan pengetahuan dasar yang wajib ia kuasai, seperti pengetahuan tentang shalat, wudhu, pengetahuan tentang perbuatan dosa. Sisanya bersifat opsional, anak bisa memilih sesuai minat.

Ada yang menarik dari pandangan Ali bin Abi thalib, yaitu pernyataanya tentang pendidikan anak:

 ” علموا أولادكم على غير شاكلتكم فإنهم مخلوقات لزمان غير زمانكم “

ِAjarkan anak-anak kamu dalam format yang berdeda, karena mereka diciptakan untuk selain zaman kamu sekalian. (Sumber: https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=312616)

Dari perenyataan tersebut, maka dapat difahami bahwa anak-anak perlu dipersiapkan untuk keperluan hidup pada masanya. Ajarkan materi-materi yang kiranya penting baginya kelak. Dan abaikan materi yang tidak relevan.

4. Pendidikan Sosial

Pengenalan pendidikan sosial pada anak sejak dini memberikan efek yang lebih membekas. Anak dapat menjadi percaya diri bersosialisasi, mudah mendapat banyak teman. Hal ini tentu bermanfaat baginya kelak.

Kecerdasan bersosial akan memberikan dorongan pada anak untuk peduli terhadap sesama. Sehingga dengan kepintarannya, ia mau menolong.

Baca juga:

Metode Pendidikan

Metode mendidik anak secara islam memang bukan isapan jempol belaka. Untuk menerapkannya, perlu memperhatikan semua aspek, baik dari segi tenaga pendidik, anak, lingkungan, waktu, model, dan lain sebagainya.

1. Aspek pendidik

Hal penting yang paling mendasar dalam pendidikan adalah aspek pendidik. Jika pendidiknya ugal-ugalan, sudah barang tentu hasil didikannya juga berantakan.

Dalam hal ini, harus dimulai dari kalangan pendidik. Ia harus memberi contoh yang baik, menjaga kehormatan dirinya, serta memiliki kemampuan yang diperlukan dalam pendidikan.

Sungguh ironis bila terdapat seorang guru yang melarang murid-muridnya merokok, sedang ia sendiri pada saat tersebut sedang menghisap rokok.

2. Aspek Anak

Mendidik anak usia 2 tahun berbeda dari anak yang berusia 10 tahun. Artinya, disini kita perlu memperhatikan usia.

Sayidina Ali bin Abi thalib memilah umur dalam pendidikan menjadi 3, setelahnya barulah di lepas.

Usia 0-7 : menjadikan anak sebagai raja

Pada usia ini, anak perlu diberi perhatian khusus. Pembentukan kejiwaannya muncul lebih dominan pada usia ini.

Usia 7-14 : menjadikan anak sebagai tawanan

Selanjutnya, pendidikan usia 7 – 14 adalah pendidikan yang tepat untuk menerapkan karakter disiplin pada anak. Karena itu, pada usia ini, anak perlu dididik secara tegas.

Usia 14-21: menjadikan anak sebagai teman

Pada usia ini, biarlah anak bertindak lebih mandiri, dapat menentukan pilihan yang menurutnya baik, berkreasi menurut pandangannya. Meski demikian, ia tetap masih dalam kontrol dan pengawasan orang tua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *