fiqih thaharah

FIQIH THAHARAH : Pengertian, Pembagian, Media dan Tata Cara Thaharah

Fiqih Thaharah │ Thaharah adalah membersihkan raga dengan dengan menggunakan media tertentu dari segala kotoran (baik indrawi mapun maknawi) yang sekiranya dapat menghalangi shalat.

Thaharah merupakan tuntunan bagi umat Islam yang diterapkan untuk menjaga kesucian dirinya.

Media Thaharah

Ada dua media yang digunakan untuk melakukan thaharah, yaitu air dan debu.

1). Air

Air yang dapat digunakan untuk bersuci secara umum ada tujuh, yaitu air sumur, air dari sumber mata air, air sungai, air laut, air salju, air hujan, air embun.

2). Debu

Debu yang dapat digunakan untuk thaharah adalah debu murni, yang tidak tercampur pasir atau unsur lain, serta bersih dari najis.

Karakteristik Hadats dan Najis

Thaharah dari hadats dan dari najis masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat kita lihat pada ilustrasi di bawah.

Pertama, hadast disucikan dengan mandi, wudhu, dan tayamum, sedang najis disucikan dengan dibasuh hingga unsur-unsurnya hilang.

Kedua, penyucian hadats memerlukan niat, sedangkan najis tidak.

Ketiga, penyucian hadats sangat terikat dengan ritual ibadah tertentu (seperti shalat), dan merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk melaksanakan ibadah tersebut. Sedang penyucian najis tidak demikian.

Dalam ibadah shalat, thaharah dari hadats (berwudhu) merupakan syarat yang harus dipenuhi. Adapun jika telah melaksanakannya, namun kemudian anggota badannya terkena najis, maka cukup najisnya dihilangkan. Sedang wudhunya masih tetap sah.

Baca: hal-hal yang membatalkan wudhu

Thaharah dari Hadats

Thaharah dari hadats bersifat ta’abbudi. Artinya, segala tatacara pelaksanaannya telah diatur syariat secara detail. Baik dalam tataurut, bacaan, dan tindakan yang harus dipatuhi oleh setiap muslim.

Thaharah bisa dilakukan dengan tiga hal, yaitu wudhu, mandi, dan tayammum. Wudhu dilakukan untuk mensucikan hadats kecil, mandi untuk mensucikan hadats besar, sedang tayammum adalah sebagai alternatif jika penyucian hadats tidak memungkinkan memakai air.

Dalam prakteknya, tayamum berfungsi untuk mensucikan hadats baik kecil maupun besar, dan dilakukan dengan menggunakan debu.

1).Penyebab hadats kecil

Hal-hal yang menjadi penyebab seseorang berhadats kecil adalah: Hilangnya akal karena tidur, kentut, kencing, menyentuh kemaluan dengan telapak tangan, menyentuh lawan jenis yang bukan muhram (yang haram dinikahi).

2). Penyebab hadats besar

Berbeda dari hadat kecil, hal-hal yang menjadi penyebab hadats besar diantaranya yaitu: bersetubuh (jimak), mengeluarkan sperma, dan kematian.

Tharah dari Najis

Tahaharah dari najis ada yang bersifat ta’aquli, ada juga yang ta’abbudi.

Secara umum, membersihkan najis bersifat ta’aquli. Tidak ada ketentuan pasti perihal bagaimana syariat menentukan tatacaranya yang harus diikuti ansich. Sehingga manusia secara logis bebas melakukan penyucian dengan cara-cara yang beragam. Yang terpenting, segala bentuk najis yang melekat pada diri atau tempat sekitar dapat dihilangkan.

Cara mensucikan najis cukup dengan menghilangkan bentuk, bau, dan rasanya.

Mensucikan najis yang bersifat ta’abbudi, dimana tatcara penyuciannya telah ditentukan syariat, dapat anda ketahui dalam najis mughaladzhah yang diuraikan di bawah.

Pembagian Najis

Jika ditinjau dari unsur Indrawi, najis terbagi dua, yaitu Ainiyah dan Hukmiyah.

1). Najis Ainiyah

Najis Ainiyyah adalah najis yang dapat di tangkap oleh panca indra manusia. Bentuk, bau dan juga rasanya dapat dipegang, dilihat, dirasakan (dijilat agar yakin). Seperti kotoran hewan, air kencing, miras, dan lain sebagainya.

2). Najis Hukmiyah

Sedang najis hukmiyyah adalah najis yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra, namun dari aspek syariat, ia dihukumi najis. Seperti najis pada tangan yang menyentuh babi, meski tangan tersebut tidak berbau babi, tetap harus disucikan.

Tingkatan Najis

Jika ditinjau dari tingkat dan tatacara mensucikannya, najis terbagi menjadi tiga, yaitu:

1). Mughaladzhah 

Disebut juga dengan najis berat. Yaitu najis yang cara penyuciannya dibasuh 7 kali menggunakan air, dan satu kali dengan debu.

Najis ini berkaitan dengan hewan babi (menurut Jumhur Ulama) dan juga Anjing (menurut Syafi’iyah). Manakala anggota tubuh kita menyentuh hewan tersebut, atau terdapat wadah yang digunakan oleh keduanya, maka bagian yang terkena najis harus dibasuh 7 kali dengan air, dan satu kali dengan debu.

2). Mutawassithah

Najis ini berada di tingkat menengah. Yaitu najis yang dihilangkan dengan menggunakan air agar bentuk, bau dan rasanya hilang.

Najis ini meliputi semua kotoran (hewan dan manusia), air kencing, minuman keras.

3). Mukhaffafah

Atau najis ringan. Yaitu najis yang cara penyuciannya cukup dengan mengipratkan air pada anggota / tempat yang terkena najis.

Najis ini hanya berlaku pada bayi laki yang belum makan apapun kecuali air susu ibu (ASI).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *