jarimah

Pengertian, Unsur dan Macam Jarimah dalam Hukum Islam

Secara sederhana, Jarimah adalah tindak pidana, atau perbuatan yang melanggar ketentuan pidana.

Misalnya mencuri, memfitnah, merampok, dan lain sebagainya.  Semua perbuatan ini disebut jarimah.

Dalam islam, ketentuan pidana ada yang telah diutarakan oleh nash (al-Qur’an dan Hadits), ada juga berupa peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak yang berwenang (Qanun).

Dari aspek nash, kita dapat temukan ayat-ayat yang menerangkan hukuman bagi para pelaku pencurian, pembunuhan,  zina, perampokan, peminum khamar (arak), dan lain sebagainya.

Sedang dalam Qanun, hakim atau negara membuat peraturan-peraturan yang tidak ditentukan oleh nash, berikut sanksinya.

Seperti dalam Qanun provinsi Nangru Aceh Darus Salam, pelaku Khalwat (pasangan berduaan di tempat sepi) dikenakan sanksi cambuk.

Unsur Jarimah

Abdul Qodir Audah menjelaskan ada tiga unsur jarimah yang dikenal dalam hukum Islam, yaitu:

  1. Adanya nash yang melarang tidaknya suatu tindakan/perbuatan
  2. Adanya perbuatan pidana.
  3. Adanya pelaku tindak pidana, dan dirinya sudah masuk dalam kategori mukallaf (orang yang layak dikenakan beban hukum / orang yang dapat dikenakan pertanggungjawaban). Orang yang masuk dalam kategori ini adalah yang baligh dan berakal.

Ketiga unsur di atas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Seorang dapat dikenakan sanksi pidana islam jika ia terbukti berbuat, dan terdapat nash atau peraturan pidana yang menyebutkan bahwa perbuatannya dilarang.

Macam-macam Jarimah

Jika diuraikan, Jarimah terbagi menjadi beberapa macam, yaitu:

  • Dilihat dari aspek berat / ringannya hukuman, Ia terbagi menjadi tiga, yaitu hudud, qishash/diyat, dan ta’zir
  • Jika dilihat dari segi niat si pelaku, jarimah dibagi menjadi dua, yaitu sengaja dan tidak sengaja.
  • Bila dilihat dari cara mengerjakannya, ia dibagi menjadi dua, yaitu positif dan negatif.
  • Manakala dilihat aspek korbannya, ia dibagi dua, yaitu perorangan dan kelompok.
  • Dilihat dari segi tabiatnya, ia terbagi dua, yaitu tindak pidana biasa dan politik.

Baca juga:

___________

Dr. Mardani, Hukum Islam (Pengantar Ilmu Hukum Islam di Indonesia), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2015, hal: 110-115.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *